Home » » Rajin Pembawa Berkah

Rajin Pembawa Berkah

Disuatu senin pagi,

Satya sudah siap untuk berangkat sekolah. Pagi ini begitu cerah dan Ia pun sangat bersemangat untuk segera belajar.

Sesudah sarapan pagi,

ia pun berpamitan kepada ayah dan ibunya. Senyum terkembang dibibirnya sembari berjalan menuju sekolah.

Ia adalah murid kelas 4 SD di Sekolah Dasar Kasih Sayang.

Ketika sampai disekolah, teman-temannya ternyata sudah banyak juga yang datang. Mereka pun berbagi cerita tentang kegiatan ketika mengisi liburan di hari minggu kemarin.

Cerita-cerita mereka ternyata menyenangkan semua.


Masuk kelas

pekerjaan rumahBel tanda masuk kelas pun berbunyi dan murid-murid siap untuk menerima pelajaran.

Pelajaran pertama adalah matematika dan Ibu Guru Ami sudah memasuki ruangan kelas. 

Ibu Ami kemudian meminta murid-murid untuk segera mengumpulkan tugas matematika yang dimintanya minggu lalu.

Semua murid-murid segera bergegas mengumpulkan buku LKS matematikanya,

Kecuali Satya.

Satya bingung,

Ia lupa bahwa ada PR di buku LKS.


  • Ia terlihat sedih dan takut karena merasa belum mengerjakannya. 
  • Ia takut akan dimarahi oleh guru dan orang tuanya jika ketahuan tidak membuat tugas. 


Tapi itu semua sudah terlambat,

Sangatlah terlambat..

Buku LKS harus dikumpulkan sekarang dan ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun hanya untuk mengerjakan satu soal.

Tidak ada waktu untuk soal lagi.

Ibu Ami pun memanggil Satya karena ia saja yang belum mengumpulkan tugas.

Satya terlihat pasrah

Benar-benar pasrah..

Segera diambilnya buku LKS dari tas dan langsung diberikan kepada Ibu Ami tanpa membuka LKS itu sama sekali.

Ibu Ami berkata

Bahwa hasil tugas ini akan diumumkan besok.

Satya semakin sedih karena ketakutan mendapatkan nilai 0. Sudah terbayang bagaiamana orang tuanya akan marah jika mengetahui kejadian ini.


Bingung dan gundah

Di rumah

Satya tidak enak makan dan agak murung.

Kedua orang tuanya pun heran melihatnya. Ketika ditanya, Ia hanya menjawab bahwa sedang lemas saja dan merasa malas.

Keesokan harinya disekolah,

Satya semakin kalut dan bingung. Ia takut kalau semua teman-temannya tahu bahwa nilainya 0.

Ini akan menjadi 0 bersejarah sejak pertama kali bersekolah.

Bel pun berbunyi dan Ibu Ima sudah memasuki kelas.

Satya tegar menghadapi ini semua.

Ibu Ami sekarang akan mengumumkan nilai dan memberitahu bahwa hanya ada satu orang yang mendapatkan nilai 10 dan juga ada satu orang yang mendapatkan nilai 0.

Satya semakin sedih karena pasti Ia lah yang mendapatkan nilai 0.

Satu per satu Ibu  Ami menyebutkan nilai masing-masing murid dan hingga tinggal dua orang siswa lagi, yaitu Satya dan temannya yang bernama Budi.

Satya semakin gusar

Sedangkan Budi

Tampak tenang saja karena Ia sudah mengerjakan tugas dengan baik.

Kemudian Ibu Ami menyebutkan yang mendapatkan nilai 10 adalah Budi.

Budi terlihat senang dan Ia merupakan murid yang pintar dikelasnya, jadi wajar Ia mendapatkan nilai 10.

Sekarang semua murid melihat ke Satya, karena dialah satu-satunya yang belum dipanggil dan satu-satunya nilai yang tersisa adalah 0. 

Ibu Ami kemudian memanggil Satya untuk maju ke depan dan mengambil buku LKS-nya.


  • Satya berjalan gontai 
  • dan sudah siap menanggung malu. 


Ibu Ami menunjukkan pekerjaan Satya dibukunya dan Satya melihat nilai yang terpampang disana.

Kejutan

Ia mendapatkan nilai 10 juga.
Satya langsung  meloncat kegirangan. 

Murid-murid yang lain heran dengan tingkah laku Satya. Mengapa harusnya mendapatkan nilai 0 kok malah senang?

Ibu Ami pun menjelaskan kepada semua murid bahwa tidak ada yang mendapatkan nilai 0,
Ibu Ami hanya bercanda saja dan yang mendapatkan nilai 10 ada dua orang, yaitu Budi dan Satya.

Satya memperhatikan kembali buku LKS itu karena penasaran bagaimana Ia bisa mendapatkan nilai 10.

Ternyata

Semua soal dalam buku tersebut sudah ia jawab dengan baik.

Ia kemudian ingat, bahwa ketika Ibu Ami memberikan PR, sesampainya di rumah Ia langsung mengerjakannya sampai selesai.

Itulah kebiasaan yang selalu Satya lakukan setelah pulang sekolah.


  • Mempelajari kembali pelajaran yang didapat disekolah 
  • dan mengerjakan PR tanpa pernah menundanya. 


Mulai saat itupun, Satya akan terus melakukan kebiasaannya itu agar PR yang diberikan oleh Ibu Guru selalu dikerjakan dengan baik.


Baca juga :


Gratis!! Dapatkan artikel terbaru hanya dengan memasukkan alamat email anda.. Mudah sekali tentunya..:

Delivered by FeedBurner


7 comments:

  1. gak harus pakai LKS yg penting dikerjakan ya.. ibu guru bijak

    ReplyDelete
  2. itu lah kebiasaan yg sama seperti saya :) saya pun klo di kasih PR langsung di kerjakan malahan blm juga bubar saya udh kerjakan langsung di sekolah. karena kalau di rumah gak ada teman yg bisa di tanya :D

    ReplyDelete
  3. itu lah kebiasaan yg sama seperti saya :) saya pun klo di kasih PR langsung di kerjakan malahan blm juga bubar saya udh kerjakan langsung di sekolah. karena kalau di rumah gak ada teman yg bisa di tanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. beh..
      mantap mas...

      ga ada pikiran deh kalau sudah kelar pr-nya ya..

      Delete